
Wirania Swasty, S.Ds., M.AB., Ph.D., Periset Grant Toshiba International Foundation (TIFO) Japan
Dana hibah adalah aspek penting bagi periset, karena dapat membantu kelancaran proyek riset hingga selesai. Dana hibah bermacam-macam sumbernya, mulai dana pribadi, dana internal institusi, kementerian atau negara hingga lembaga pendanaan riset eksternal dari luar negeri. SUMBER dana hibah yang terakhir memiliki prestise tersendiri bagi periset yang mendapatkannya. Pasalnya cukup sulit meraih dana hibah dari luar negeri mengingat persaingannya lebih global dengan periset-periset dari luar negeri. Alhasil, selain mencari dana hibah dari dalam negeri, para periset dan dosen juga harus banyak menggali informasi jika ingin meraih dana hibah (grant) dari luar negeri.
Kemudian, periset harus mempersiapkan beberapa hal sebelum mengajukan proposal riset untuk meraih dana hibah. Begitu juga yang dilakukan Wirania Swasty, S.Ds., M.AB., Ph.D., dosen dan periset Fakultas Industri Kreatif Telkom University (FIK Tel-U) yang mampu mendapatkan Grant dari Toshiba International Foundation (TIFO) Japan tahun 2024. “Awalnya ada kolega di Kelompok Keahlian (KK) yang menginformasikan adanya hibah dari Sumitomo Foundation Jepang. Dalam proposal untuk hibah ada profil periset, lalu harus ada rekam jejak dalam riset dan publikasi. Akhirnya, saya diajukan sebagai ketua tim periset, sebab banyak riset saya yang berkaitan dengan topik riset ini. Kemudian, ada lagi hibah dari Toshiba International Foundation, kami apply dan submit kembali.
Alhamdulillah, untuk Grant dari Toshiba ini lolos,” ungkap dosen yang akrab disapa Asty ini. TIFO berupaya mempromosikan pemahaman internasional tentang Jepang dan berkontribusi pada saling pengertian dalam komunitas global dan pengembangan masyarakat yang berkelanjutan dan harmonis. Dana hibah dari Toshiba dikhususkan untuk riset upaya Jepang membuat para traveller, terutama yang berasal dari luar negeri (foreigner), memahami berbagai konteks sistem tanda dan petunjuk arah (wayfinding), khususnya yang ada di jalur kereta api antara Kota Osaka – Kyoto. Topik yang diajukan Asty dan timnya bertajuk “Navigating the Cultural Context in the Implementation on Wayfinding and Sign Systems in Osaka – Kyoto Railway Stations”. “Saya mengajukan proposal tahun 2023 untuk pendanaan tahun 2024-2025.
Jadi, untuk satu tahun riset. Riset ini meneliti bagaimana konteks budaya memengaruhi perilaku orang, pengambilan keputusan, dan respons emosional di ruang yang diperkaya desain grafis lingkungan dengan melakukan penelitian tindakan partisipatif di kedua kota,” katanya melanjutkan. Tim periset terdiri atas tujuh orang dosen dari sejumlah program studi di FIK serta satu alumni dari Magister Desain. Tim melakukan field study dengan mendatangi sejumlah stasiun antara Kota Osaka dan Kyoto pada 12 – 22 Agustus 2024. “Kenapa riset di Jepang? Karena pemberi hibah dari sana. Mereka intinya ingin bicara tentang understanding of Japan supaya kami juga dapat melihat kondisi di Jepang. Jika bicara wayfinding di Indonesia, tentu permasalahannya akan lebih kompleks, terutama di stasiun kereta. Di Jepang memang sudah lebih teratur wayfinding-nya, namun ada perbedaan bahasa dan huruf yang digunakan. Di dunia internasional lebih banyak menggunakan huruf latin, sementara mereka kanji.
Hal ini menjadi salah satu gap bagi foreigner yang datang ke sana,” tutur Asty. Asty mengaku, dia baru kali ini mendapat grant riset dari luar negeri. Sebelumnya, beberapa risetnya berasal dari hibah dana internal, dana kementerian (sebagai anggota tim riset), dan riset dengan pendanaan kolaborasi internasional dengan periset dari luar negeri, salah satunya dengan Malaysia Multimedia University (MMU). “Setelah mendapat hibah dari Toshiba, saya sempat diundang dalam kegiatan di Pascasarjana oleh Prof. Indrarini untuk sharing dengan dosen dosen lainnya di bulan Oktober lalu. Jika ditanya tips dan triknya, ada dua hal yang harus dipersiapkan. Pertama, lihat dulu apa tujuan dari hibah itu.
Apakah tujuannya sesuai dengan bidang riset yang digeluti? Kemudian, lihat rekam jejak dari riset-riset di tahun-tahun sebelumnya yang sudah sukses mendapat grant itu seperti apa. Kisaran dana hibah dari Toshiba lumayan besar, 1.480.000 Yen atau sekitar Rp 150 juta. Untuk luarannya, kami menjanjikan menghasilkan artikel jurnal dan prosiding hingga video,” paparnya. Kendati tidak menargetkan riset setiap tahun, tapi setiap semester Asty selalu melakukan riset, baik sebagai ketua tim maupun anggota riset guna menjaga produktivitas. Demikian pula dengan kegiatan pengajaran dan pengabdian kepada masyarakat. Menurutnya, hal itu sudah menjadi kewajiban. Bahkan saat ini tuntutan dosen bukan lagi Tri Dharma, melainkan Penta Dharma.
Asty kini aktif di KK Human, Media & Technology (Humagy) dan Center of Excellence (CoE) Hastaloka. Ia juga melakukan kolaborasi antardisiplin ilmu pada risetnya di Jepang. Sebab, “Wayfinding ini merupakan intersection keilmuan. Jadi, di dalamnya melibatkan banyak bidang mulai Interior Design, Graphic Design Architecture Design, bahkan Urban Design,” ujar Editor in Chief Jurnal Demandia ini. Untuk menjalankan risetnya, Asty menekankan perlunya rajin membaca literatur. Tujuannya agar mudah mendapat inspirasi atau mencari metode riset terbaik yang akan dilakukan. Ia pun tak menampik jika dalam riset terkadang menemui tantangan, terutama manajemen waktu. “Terkadang ketika sedang asyik menganalisis data misalnya terpotong pekerjaan lain, sehingga kadang suka lupa atau harus mengingat-ingat kembali analisis yang sudah dilakukan,” tukasnya.
Setelah mendapat grant riset dari TIFO, Asty sudah ancang-ancang mengajukan proposal untuk riset lanjutan di tahun kedua. Ia berharap kembali lolos dan mendapat grant dari TIFO. “Targetnya ke depan kembali mendapat dana hibah riset dari luar. Dari riset ini kami dapat memperluas jejaring untuk riset maupun kerja sama. Mudah-mudahan risetnya juga tidak berhenti di topik ini, tapi berkembang lagi,” harap dosen yang berkarier di Tel-U sejak tahun 2014 ini.
Wirania Swasty, S.Ds., M.AB., Ph.D.
Jenjang Pendidikan
• S1 Desain Interior ITB (2004)
• S2 Manajemen Bisnis Administrasi ITB (2013)
• S3 Graphic Communication Design, School of The Art Universiti Sains Malaysia (2023)
Pengalaman
• Editor in Chief Jurnal Demandia (2017 – sekarang)
• Designer Interior, Copywriter for Interior Design, Interior Consultant, dan lain-lai