Redooceit: Solusi Kelola Sampah Organik dengan Maggot

Redooceit: Solusi Kelola Sampah Organik dengan Maggot

MENGAJAK pada kebaikan butuh usaha maksimal. Itu pun hasilnya tidak selalu memuaskan. Demikian juga dalam pengelolaan sampah di kota besar yang kian sulit dan butuh inovasi. Terlebih pembuangan sampah selama ini belum efektif, lantaran hanya mengandalkan Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) PADAHAL daya tampung TPAS kini kian menyusut, sehingga berton ton sampah warga semakin sulit dibuang.

Alhasil, salah satu upaya yang ditempuh adalah memilah terlebih dulu sampah yang akan dibuang sesuai jenisnya. Tantangannya sulit mengubah kebiasaan masyarakat yang kadung terbiasa membuang sampah alakadarnya. Inilah alasan lahirnya inovasi Redooceit (Reduce it) yang digagas tim mahasiswa Telkom University (Tel-U) beranggotakan Nazwa Tazkia Kirana, Alfara Nafi Dinara, dan Nisrina Thifal Khairunissa di bawah dosen pembimbing Suryatiningsih, S.T., M.T., CHt., OCA. dari Fakultas Ilmu Terapan (FIT) dalam kompetisi Innovillage 2023 kategori Zero Waste. Inovasi ini berhasil keluar sebagai Juara I Innovillage 2023 dan diimplementasikan di TPS 3R Desa Lengkong, Kabupaten Bandung.

Redooceit adalah inovasi berbasis hardware dan software untuk sistem pengelolaan sampah organik dengan maggotisasi berbasis teknologi. Inovasi ini menghadirkan mesin penggiling sampah organik yang keras, seperti tulang atau kulit buah. Hasil penggilingan kemudian dikeringkan secukupnya dan langsung didistribusikan ke kotak-kotak berisi maggot (kasgot) yang akan otomatis memakan sampah organik. Mesin dilengkapi sejumlah sensor berbasis Internet of Things (IoT) untuk memonitor jumlah sampah yang sudah masuk ke kasgot melalui sistem aplikasi berbasis android. Pada aplikasi berbasis android ini ada pula data anggota masyarakat yang sudah menyetorkan sampah organik mereka hingga poin yang diperolehnya. Poin-poin itu selanjutnya dapat ditukar dengan sembako.

Rumah maggot terletak di area TPS 3R, sehingga memudahkan petugas pengelola sampah. Maggot diberikan Pemerintah Kabupaten Bandung yang dibudidayakan dari Black Soldier Fly (BSF) dan memiliki kemampuan memakan sampah organik dalam waktu sangat cepat. Redooceit mengajak masyarakat untuk memilah dan mengelola sampah dengan menjalankan ekonomi sirkular. Jadi, dengan berpartisipasi dalam inovasi Redooceit, masyarakat bakal mendapat keuntungan berupa poin yang bisa ditukar dengan sembako bernilai ekonomi. Kemudian, maggot-maggot yang tersedia dan memakan sampah-sampak organik dapat dipakai untuk pakan ternak unggas ayam dan bebek, hingga ikan dan lele.

Bahkan, unggas yang mengonsumsi pakan maggot memiliki daging yang empuk, karena maggot memang berprotein tinggi. Pengelolaan sampah Redooceit menyasar bagian hulu dari skala rumah tangga. Kendati dalam satu desa belum semua masyarakat berpartisipasi, tapi program pengelolaan sampah dengan maggotisasi selama dua bulan pelaksanaan Innovillage 2023 dapat berjalan baik Sayang setelah beberapa bulan mahasiswa menyerahkan sistem pengelolaan sampah Redooceit ke masyarakat dan aparat desa, program ini mandek karena kesulitan dalam menyediakan SDM yang bersedia mengelolanya.

Padahal untuk menjalankan Redooceit hanya butuh satu pegawai untuk mengambil sampah organik ke masyarakat per dua hari sekali. Sementara pengelolaan di rumah maggot sudah otomatis dengan mesin dan pegawai hanya sekadar monitoring. Pada sisi lain antusiasme warga yang berpartisipasi dalam pemilahan sampah organik dan menyetorkan sampahnya ke mesin Redooceit cukup tinggi. Ini kendala implementasi Redooceit setelah dilepas ke masyarakat. Sedangkan mahasiswa yang masih aktif kuliah tidak dapat terus menerus mendampingi masyarakat.

Oleh karena itu, diperlukan kemauan dari pengambil kebijakan di tingkat pemerintah desa agar program bisa terus berjalan. Kendala lain adalah perawatan alat/mesin penggiling sampah. Petugas harus memperhitungkan kapasitas kerja mesin dan digunakan sesuai ketentuan agar tidak cepat rusak. Kendala terakhir menyangkut pendanaan, sebab untuk satu mesin penggiling dan aplikasi yang digunakan dibutuhkan dana sekitar Rp 30 juta. Meskipun menghadapi banyak tantangan, Redooceit meraih banyak prestasi. Sebagai program lanjutan dari pengelolaan sampah, Redooceit kembali mendapatkan pendanaan Rp 15 juta dari Kemendikbudristek serta meraih Juara Harapan 2 dalam ajang Kewirausahaan Muda Indonesia (KMI) Expo untuk usaha kuliner bebek hasil pakan maggot di Kendari yang bekerja sama dengan UMKM kuliner.

Redooceit juga sudah menyelesaikan masa inkubasi bisnis di Bandung Techno Park (BTP) yang bekerja sama dengan Kementerian Koperasi (Kemenkop) selama enam bulan. Bahkan pada hari terakhir demo day, Redooceit mendapat empat Letter of Intendent (LoI) dari enam stakeholder modal venture yang menyatakan tertarik dengan produk ini. Terakhir, Redooceit meraih Juara Pertama dalam University Incubator Consortium (UNIIC) Demo Day & Pitching Competition 2024 yang berlangsung 17-19 September 2024 di Jakarta dan Bandung. Kegiatan ini melibatkan peserta dan dewan juri dari sejumlah kampus di dalam dan luar negeri. Selain di Desa Lengkong, Kabupaten Bandung, Redooceit diimplementasikan pula di Kelurahan Antapani Kidul dengan hibah pendanaan CSR PT Telkom Indonesia Tbk. melalui Unit Digital Collaboration for Sustainability (DCS) Tel-U.

Kemudian, Tel-U berkolaborasi dengan Pemerintah Kota Bandung dan LLDIKTI IV dalam upaya menangani kondisi darurat sampah di Kota Bandung pada November 2024.

Profil Dosen Pembimbing

Suryatiningsih, S.T., M.T., CHt., OCA., atau akrab disapa Ocha adalah dosen tetap Fakultas Ilmu Terapan (FIT) Tel-U. Ia menyelesaikan studi S1 Teknik Informatika STT Telkom dan S2 Teknik Informatika IT Telkom. Bidang keahliannya dalam IT/IS Governance dan Innovation in Digital Economy. Kajian riset Ocha di antaranya Human Computer Interaction, User Experience, Mobile Application, dan Information System. Saat ini, Ocha menjabat Kepala Urusan Sentra KI & Transfer Teknologi Tel-U di Bandung Techno Park (BTP). Menurut dia, banyak talenta di Tel-U, baik dosen maupun mahasiswa, yang memiliki ide-ide inovasi untuk membantu permasalahan di masyarakat. Bahkan, ia tidak menyangka Redooceit yang dibimbingnya mampu meraih banyak prestasi. “Di BTP ada empat jenis inkubasi yang dapat diikuti startup seperti Redooceit. Dua inkubasi internal yang masih dalam tahap ide langsung dijalankan BTP. Sementara dua jenis inkubasi lagi dilakukan BTP berkerja sama dengan stakeholder eksternal, seperti pemerintah atau perusahaan modal venture. Alhamdulillah, Redooceit dapat menyelesaikan inkubasi di BTP bersama Kemenkop. Meski mahasiswa agak kesulitan dari sisi penjadwalan, karena masih aktif kuliah. Sementara kegiatan inkubasi 90% bersifat onsite. Harapannya, Redooceit dapat sustain dan jika memungkinkan dapat lanjut keinkubasi keempat di BTP atau disebut UPWARD. Ini agak sulit, karena salah satu syaratnya inovasi sudah TRL 8 atau 9 serta mahasiswanya masih aktif kuliah,” ujar Ocha