Pendidikan Berkelanjutan di Era Disrupsi, Profesional & Empati

Pendidikan Berkelanjutan di Era Disrupsi, Profesional & Empati

Sejak tanggal 01 Maret 2025, Telkom University (Tel-U) memiliki nakhoda baru yang akan membawa kampus ini menuju National Excellence Entrepreneurial University di tahun 2030. Untuk menghadapi puncak disrupsi teknologi di tahun 2030 nanti, Tel-U perlu mempersiapkan diri dari sekarang agar dapat menikmati disrupsi. Maka, lima tahun ke depan adalah penentuan bagi Tel-U untuk memperkuat landasan dalam mewujudkan visi misinya.

Diakui sebagai private university terbaik di Indonesia dengan berbagai capaiannya, Tel-U kian berkembang dengan adanya kampus-kampus cabang dengan nama Telkom University National Campus (TUNC). Organisasi yang kian besar, memerlukan strategi tata kelola yang tepat. Terlebih, saat ini disrupsi teknologi, terutama Artificial Intelligence (AI), Cyberscurity (CS), dan Advanced Technology (AT) kian merasuk. Sebagai kampus teknologi, Tel-U ingin menikmati disrupsi, bukan yang terdisrupsi. Setelah lebih dari 100 hari menjabat, Rektor Tel-U periode 2025 – 2030, Prof. Dr. Suyanto, 4 S.T., M.Sc. yang lebih akrab disapa Prof. Suo menjabarkan arah kepemimpinannya dalam menghadapi pesatnya perkembangan AI, CS, dan AT. Terlebih, ia sendiri merupakan pakar AI. Oleh karena itu, Tel-U harus memperkuat fondasi, pilar, dan atap universitas agar mampu bertahan hingga ratusan-ribuan tahun ke depan.

Harmoni Saintek dan Sosiohumaniora

Sebelum bicara program kerja dan rencana strategis, Prof. Suo menyoroti makna dari excellence yang menjadi salah satu nilai Tel-U. Pada awal berdiri, kampus ini kental dengan keilmuan saintek dan civitas akademika bergerak menuju profesionalitas tinggi yang personal competitive. Namun, Tel-U kemudian mengembangkan ilmu sosiohumaniora sebagai bidang pendidikan dan kajian. Pergeseran ini memunculkan narasi baru yang digagas Prof. Suo agar ada keseimbangan antara aspek saintek dan sosiohumaniora di Tel-U yang bisa menjaga talenta lebih long lasting. “Saya selalu pesan ke rekan-rekan agar menjalani work life balance. Untuk mencapai posisi excellence, jangan kerja terlalu keras. Prinsip saya, 8 jam untuk pekerjaan, 8 jam untuk keluarga dan masyarakat, 8 jam untuk istirahat. Maka, narasi baru yang kami bangun adalah harmonisasi empati dan profesionalisme untuk mencerdaskan umat manusia (harmonizing empathy and professionalism for human enlightenment),” ungkapnya. Menurut Prof. Suo, Tel-U sudah profesional karena berbasis budaya korporasi. Namun, aspek humanity dan empati perlu diperkuat.

Pasalnya, kampus-kampus besar pun lahir dari sikap profesional dengan empati tinggi pada masyarakat. “Sangat disayangkan ketika ada talenta yang meninggal di usia muda, karena terlalu profesional, tetapi tidak memperhatikan aspek humanity. Maka, Tel-U harus membangun keseimbangan pekerjaan dan kehidupan agar talenta-talentanya dapat bertahan hingga ujung karier dan tetap sehat di masa pensiunnya,” lanjutnya. Isu work life balance menjadi alasan menguatnya dukungan kalangan civitas akademika Tel-U bagi Prof. Suo kala pemilihan rektor. Sebab, meski kampus berbasis ICT, Tel-U sudah mulai mengolaborasikan aspek saintek dan sosiohumaniora, sehingga menghasilkan kolaborasi multidisiplin ilmu. Berdasarkan pengalamannya ketika studi S2 di Swedia, Prof. Suo melihat selalu ada aspek rekayasa saintek dan rekayasa sosiohumaniora dalam penyelesaian masalah yang kompleks. Bahkan, saat ini sejumlah negara telah membangun dan mengimplementasikan konsep Industri 5.0, yang memiliki tujuan Kustomisasi Massal dengan tiga fitur: berpusat pada manusia (human-centric), tangguh (resillient), dan berkelanjutan (sustainable). Terkait work life balance, Tel-U melalui Direktorat SDM sudah meluncurkan program Well Being yang berkolaborasi dengan pihak eksternal.

Salah satunya berupa layanan konsultasi bagi civitas akademika yang memiliki masalah kesehatan fisik dan kesehatan mental melalui aplikasi NALURI. Pada aplikasi ini, civitas akademika dapat berinteraksi dengan dokter, psikolog, pelatih olah raga, dan ahli diet terkait permasalahan mereka secara kredibel dan terjamin kerahasiaannya. Paradigma Tel-U yang personal competitive lantaran sangat teknik kini bergeser menjadi communal colaboratif dengan menyeimbangkan saintek dan sosiohumaniora. Tujuannya agar civitas akademika maupun lulusan Tel-U tidak hanya memiliki kompetensi tinggi secara teknologi, tetapi secara humanity pun memiliki empati dan etika yang tinggi. Upaya ini didukung manajemen dengan proses internalisasi dan pembiasaan secara kontinyu yang didukung aturan, kebijakan, maupun program kerja untuk mewujudkannya. Prof. Suo menyadari akan selalu ada tantangan dalam mengubah kebiasaan dan mindset lama. “Tantangan resistensi dari kebiasaan lama ke budaya baru pasti ada. Untuk itu, ada proses internalisasi secara hierarkis yang telah digulirkan di Tel-U. Mulai dari Rektor sebagai culture leader, Dekan dan Direktur sebagai culture champion, Kepala Bagian dan Kepala Urusan sebagai culture booster, hingga seluruh civitas akademika lainnya sebagai culture user.

Jadi, gerakan internalisasi ini dirancang secara terstruktur, sistematis, dan masif,” katanya. Lantas seperti apa penjabaran dari rencana strategis Tel-U lima tahun ke depan? Prof. Suo membaginya dalam penguatan fondasi dan pengukuhan pilar, sehingga menghasilkan bangunan yang kuat. Tiga Skill Tandingi Tiga Teknologi Super di Era Disrupsi PERIHAL itu, Prof. Suo menyoroti berbagai fenomena yang muncul seiring perkembangan teknologi AI. Di antaranya post-truth dan posthuman yang dapat mengikis aspek humanity, empati, dan kepercayaan diri manusia. Pada era post-truth (pascakebenaran), terjadi fenomena viralitas yang selalu dianggap benar. Orang cenderung meyakini kebenaran berdasarkan emosi dan keyakinan sendiri. “Yang viral dianggap benar, padahal tidak didukung data dan fakta yang kuat”. Mendikdasmen, Prof. Abdul Mu’ti, menyebut, teknologi AI dapat membuat orang bukan makin cerdas, tetapi makin culas. AI memiliki banyak dampak positif dan negatif. Maka, sebagai Rektor, saya harus berpikir keras dalam menavigasi dan memitigasi arah Tel-U lima tahun ke depan. Terlebih, saya pakar AI,” lanjutnya. Prof. Suo mengungkapkan, pada tahun 2030, akan ada tiga teknologi super yang muncul. Teknologi AI generasi 4 yang super cerdas (AI dapat dilatih bermiliar buku berbagai bidang yang semula perlu waktu 6 bulan akan menjadi lebih cepat), wireless network generasi 6 yang super cepat (transmisi data hingga sepuluh ribu kali lebih cepat dari sekarang), dan quantum computing yang super kuat (jutaan tahun waktu pemrosesan menjadi beberapa detik saja). Maka, sebagai institusi pendidikan tinggi, Tel-U perlu mendesain dan memiliki kurikulum yang tepat untuk menghadapi era post-truth dan menikmati era disrupsi di tahun 2030.

“Era post-truth yang menguat mesti dihadapi dengan kurikulum yang tepat agar tidak terjadi keculasan sebagai efek dari teknologi AI. Maka, kami membangun 3 skill dasar yang harus dimiliki mahasiswa baru, yakni reading, writing, dan story telling untuk memahami literasi, merilis imaginasi, dan mereduksi post-truth. Reading untuk memahami literasi, merilis imajinasi, mendalami sains, dan menumbuhkan empati. Writing memformulasikan pikiran dalam tulisan untuk membangun profesionalitas.

Jadi, sebelum menulis, kita berpikir dulu apakah tulisannya dapat mudah dipahami orang? Apakah tulisannya tidak akan melukai orang lain? Terakhir, story telling ketika mahasiswa sudah kuat reading dan writing. Ia mampu menarasikan dan mencerahkan orang lain melalui pemikirannya dan berdampak bagi masyarakat,” jelasnya. Tiga skill dasar itu bakal diberikan di tahun pertama di perpustakaan dan perkuliahan mahasiswa. Ini demi menumbuhkan narasi harmonizing empathy and professionalism for human enlightenment. Hal ini sudah diimplementasikan secara informal, dengan kegiatan membaca buku fisik sebelum pembelajaran dan menuliskan apa yang yang dibaca untuk memunculkan creative thinking. 6Selain post-truth, post-human (pascamanusia) dianggap Prof. Suo lebih mengerikan ketika perkembangan AI kian pesat.

Betapa tidak, ketika manusia memiliki keterbatasan dalam kapasitas keilmuan muncul entitas AI yang mampu dilatih membaca hingga miliaran buku dalam sekejap. Maka, manusia akan mempertanyakan kemampuannya sebagai manusia dalam menyelesaikan permasalahan. “Manusia bergelar profesor pun mungkin hanya mampu membaca 1.000 buku selama hidupnya. Maka, AI ini menjadi spesies baru yang lebih tinggi derajatnya (lebih pintar) dari manusia. Sebanding dengan 1.000 profesor. Ketika kita ke dokter untuk mencari tahu penyakit misalnya, mesin AI dapat menjawab lebih tepat permasalahan kedokteran, maka untuk apa kita bertanya ke dokter manusia? Itulah fenomena posthuman,” tukasnya. Selain penguatan tiga skill dasar, Tel-U kian inklusif dengan pembentukan Unit Layanan Disabilitas (ULD) di tahun 2025. Tujuannya membangun pendidikan berkualitas bagi mahasiswa berbakat tanpa batasan suku, agama, rasa, golongan, fisik, gender, dan sebagainya.

Pendidikan berkualitas tanpa batasan ini mengedepankan empati dan profesionalitas. Sebab, selama ini baru 60% saja di Indonesia yang mampu kuliah di perguruan tinggi. Masih banyak orang dengan keterbatasan fisik, akademik hingga finansial yang membuatnya tidak mampu kuliah. Maka, Tel-U menganggap semua institusi di luar Tel-U sebagai kolaborator, bukan kompetitor, dalam upaya mencerdaskan bangsa melawan kebodohan dan kemiskinan. “Bagaimana kami mencari sebanyak-banyaknya kolaborator untuk melawan kebodohan, entah perguruan tinggi lain atau perusahaan untuk menghasilkan invensi dan menyerap lulusan kami. Lulusan yang terserap industri dapat meningkatkan taraf hidupnya. Kami lihat sejumlah kampus dengan kekuatan di bidang tertentu. Kami pun memiliki kekuatan di satu bidang tertentu. Hal ini bisa dijadikan kolaborasi atau konsorsium riset untuk mewujudkan Asta Cita. Sangat penting bagi kami melihat semua institusi sebagai kolaborator, sebab kampus-kampus besar dipengaruhi personal-personal di dalamnya. Selama kita bisa menarasikan (story telling), kita dapat berkolaborasi untuk mewujudkan Asta Cita, melawan kebodohan dan kemiskinan,” tambah Prof. Suo. Untuk menghadapi era posttruth dan post-human, Tel-U perlu membangun dan menyiapkan civitas akademika yang memiliki fondasi kuat. Lantas, apa saja fondasi Tel-U yang harus diperkuat?

4 Fondasi Kuatkan Tel-U di Era Disrupsi

ADA empat fondasi yang dikuatkan Tel-U dalam lima tahun ke depan, yakni pemimpin visioner (visioner leader), dukungan dana berkelanjutan (sustainable fund), otonomi akademik (academic otonomy), dan budaya akademik (academic culture). Impian Prof. Suo, Tel-U dapat bertahan lama sebagai institusi pendidikan layaknya Harvard University dan sejumlah universitas kelas dunia yang sudah ratusan tahun berdiri. Tidak muluk, lantaran semua institusi pendidikan memiliki tujuan yang sama, yakni melawan kebodohan dan kemiskinan serta mencerdaskan manusia. Perbedaannya terletak pada langkah dan strategi setiap institusi mewujudkan visi dan misinya. “Pada fondasi pertama, visioner leader, sejak dilantik saya sudah memikirkan pengganti saya ke depan harus lebih hebat dan mampu meneruskan visi menjadi lebih Selanjutnya, dukungan dana yang sustain dan kuat baik dari tuition fee, non tuition fee hingga endowment fund (dana abadi).

Prof. Suo menyatakan kampus-kampus hebat dunia memiliki dana abadi yang besar dan tidak pernah berkurang. Dengan dana abadi yang kuat, mereka dapat mencari calon mahasiswa paling berbakat, dosen paling hebat, serta menyediakan fasilitas kampus yang lengkap. Hal ini sedang dan akan dibangun Tel-U dalam lima tahun ke depan. Kemudian, otonomi akademik sebagai keleluasaan kampus yang harus dikuatkan dalam statuta. Institusi pendidikan harus memiliki otonomi akademik, tidak dapat ditekan atau diintervensi seperti sejumlah kampus besar dunia yang saat ini ditekan pemerintahnya untuk membatasi mahasiswa asing. Sebab, “Ilmu pengetahuan itu untuk seluruh umat manusia, bukan hanya untuk satu bangsa atau golongan tertentu. Tel-U pun mengarah ke sana dengan dukungan Senat Universitas yang kuat,” tandasnya. Prof. Suo menganut sistem kolegialitas dengan seluruh elemen universitas untuk mewujudkan 4 fondasi Tel-U yang kuat. Ia menyebutnya sebagai kolegialitas banyak bintang. Pasalnya, “Tel-U tidak bisa kuat dengan mengandalkan seorang Prof. Suo saja, tetapi 8 butuh banyak akademisi bintang berpikiran jernih yang menjaga profesionalitas, etika, dan attitude serta memiliki empati tinggi untuk mewujudkan otonomi akademik dan menjaga budaya akademik.

Jadi, harus banyak bintang di sini untuk membentuk kolegialitas dan konstelasi sebagai penerang dan penunjuk arah.” Prof. Suo optimis, dalam lima tahun ke depan Tel-U mampu menghasilkan 100 Guru Besar (GB) sebagai salah satu targetnya. Saat ini ada lebih dari 138 Lektor Kepala (LK) yang sudah mengikuti Kick Off Detasering pada tanggal 04 Juli 2025. Selanjutnya, mereka akan dibimbing 19 GB Tel-U sesuai preferensinya. Program Detasering ini secara hierarkis melakukan proses pembimbingan kepada dosen-dosen di tingkat bawahnya. “Dengan program ini kualitas dan kuantitas GB bisa ditingkatkan,” tegas Prof. Suo, yang mendapatkan GB dengan kum 850 pada tahun 2021 dan GB dengan kum 1.050 pada tahun 2023. Terakhir, fondasi budaya akademik bagi seluruh civitas akademika Tel-U yang dapat menumbuhkembangkan kemampuan berpikir jernih serta menemukan banyak invensi dan inovasi yang bermanfaat bagi lingkungan sekitar, baik lokal, regional, nasional, dan global. Hal ini sejalan dengan slogan Kemendiktisaintek, yakni Diktisaintek Berdampak. Maka, inovasi-inovasi Tel-U harus dapat dimanfaatkan masyarakat secara luas. Salah satunya adalah sistem pengelolaan sampah Tel-U yang sudah zero waste. Selama 5 tahun terakhir, Tel-U tidak membuang sampah ke luar, tetapi mengelola dan mengolahnya menggunakan incinerator karya sendiri yang diberi nama Tel-Urator. Bahkan pengolahan sampah mandiri itu menghasilkan uang dan produk daur ulang sampahnya digunakan sendiri untuk berbagai keperluan. Implementasi inovasi ini sudah menjadi percontohan bagi institusi lain dan masyarakat umum. Setelah fondasinya kuat, Tel-U mesti mengukuhkan pilar-pilarnya agar bangunan universitas semakin kuat. Pilar apa saja yang harus dikukuhkan?

5 Pilar Dukung Tri Dharma Perguruan Tinggi

NARASI yang digulirkan Prof. Suo sejak pemilihan rektor meraih dukungan dari berbagai elemen kampus. Sebab, selain merangkul semua kalangan, aspek-aspek yang dijabarkan sangat relevan dengan kondisi terkini. Untuk menghadapi puncak disrupsi, menurut Prof. Suo, ada lima pilar Tel-U yang harus diperkukuh. Pertama, mahasiswa berbakat yang secara akademik bagus, mau berkembang, resilien, dan tidak mudah menyerah. Tel-U menggunakan sistem seleksi mahasiswa baru (maba) dengan skema terkini yang melibatkan aspek akademik, attitude, etik, dan resiliensi. Meski ada mahasiswa yang memiliki keterbatasan fisik, mental, dan finansial, Tel-U berupaya mencari solusinya agar dapat terwujud pendidikan berkualitas tanpa batasan. “Kami mengupayakan mahasiswa yang awalnya disable menjadi able. Jadi, ketika lulus mereka dapat berkarier dan mengangkat taraf hidupnya,” ujar Prof. Suo. Kedua, dosen berkualitas yang memiliki academic excellence sangat spesifik, tidak ada cacat secara saintifik, terbukti secara empiris dan teoritis, serta memiliki kebijaksanaan tinggi. Dosen berkualitas akan diwujudkan dengan target mencapai 100 Guru Besar di tahun 2030. Tel-U sudah memiliki Unit Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Perguruan Tinggi (PPKPT) yang berfungsi sebagai pengawas bagi seluruh civitas akademika, terutama dosen, ketika tersandung masalah etika. Selain itu, ada penegasan pada tiga value Tel-U (Harmony, Excellence, Integrity) dalam implementasinya. Yakni, Harmony in holistic life (harmoni dalam kehidupan di universitas, di dalam keluarga, dan di masyarakat luas), Excellence in empathy-ethics (ada keseimbangan antara keunggulan dengan empati dan etika), serta Integrity in interdependence (integritas yang saling menguatkan dan saling melindungi dalam kebaikan).

Ketiga, tata kelola yang bijaksana di mana semua kebijakan harus mendukung work life balance dan membuat tata kelola universitas lebih kuat. Tata kelola yang bijaksana akan diperkuat berbasis teknologi AI, CS, dan AT. Keempat, hubungan Tel-U dengan yayasan yang profesional, dengan proporsi tanggung jawab dan area kerja yang jelas. “Narasi ini sudah ada sebelumnya, hanya perlu dikuatkan pada sistemnya. Ranah akademik seperti akreditasi, kurikulum, dan lain-lain menjadi urusan Tel-U. Sementara itu, yayasan fokus pada pengembangan institusi secara luas,” kata Prof. Suo. Kelima, alumni yang istimewa secara akademik, empati, dan memiliki profesionalitas tinggi. Menurut Prof. Suo, alumni harus bisa menjaga nama baik almamater serta terserap cepat di industri (employability tinggi). “Alumni istimewa dibangun dengan pembinaan selama menjadi mahasiswa di asrama, penguatan 3 skill dasar, program kemahasiswaan, pembinaan menuju dunia kerja. Terlebih, maba nanti sistem seleksinya menggunakan skema baru. Jadi, kami akan lihat 4 tahun ke depan, apakah lulusan kami akan signifikan berbeda? Alumni istimewa kriterianya 3C. Compliance pada regulasi. Competence di era dinamis. Communication, mampu menarasikan gagasan yang tepat di waktu yang tepat,” paparnya. Kelima pilar ini akan mendukung Tri Dharma Perguruan Tinggi Tel-U, yaitu pendidikan, riset, dan pengabdian kepada masyarakat.

Karena, di era AI banyak kekhawatiran dari civitas akademika Tel-U terkait sisi positif dan negatif AI. Tel-U ingin menikmati era disrupsi di tahun 2030, maka harus menyikapi kehadiran teknologi AI dengan benar. Untuk itu, Tel-U sudah membentuk Komite AI yang akan menjadi panduan bagi seluruh fakultas terkait penggunaan AI dalam proses pembelajaran dan tridharma. Sebab, AI digunakan dalam porsi yang berbeda di setiap fakultas. Komite AI akan mengembangkan panduan dan aturan bagi civitas akademika dalam satudua tahun ke depan berupa aturan jelas terkait penggunaan AI. Ini untuk menghindari aksi-aksi kecurangan dengan bantuan AI dalam proses pembelajaran. Terlebih untuk bidang seni yang mengutamakan originalitas dan keaslian karya kreatif. Oleh karena itu, Tel-U membangun formulasi sesuai perkembangan teknologi saat ini dalam pengembangan kurikulumnya. “AI lebih unggul dalam akurasi dan kapasitas. Sementara manusia lebih unggul dalam kreativitas dan humanitas. Maka, yang harus dilakukan adalah Human-AI Collaboration supaya dapat meningkatkan kreativitas, humanitas, akurasi, dan kapasitas. AI dapat menulis akurat karena sudah dilatih dengan miliaran buku, tetapi tidak akan menghasilkan tulisan sekreatif jurnalis atau sasatrawan. Gagasan untuk menghasilkan talenta-talenta yang memiliki karakteristik Human-AI Collaboration akan diwujudkan ke dalam rancangan kurikulum dan mata kuliah,” jelas Prof. Suo. Di samping itu, Tel-U memperkuat riset dasar (TKT 1-3) yang didapat dari pemikiran para Guru Besar yang menemukan invensi-invensi hebat.

Riset dasar yang kuat akan memberikan dampak positif pada pengembangan riset selanjutnya. Hasil invensi ini akan menjadi paten dan lain-lain yang kemudian dapat diteruskan ke riset terapan (TKT 4-6). Selanjutnya, ada riset pengembangan untuk inovasi menuju produksi massal. Saat ini, sudah ada beberapa riset Tel-U dengan TKT 7-9 yang menuju produksi massal, seperti produk smart farming. Inovasi ini dapat ditawarkan ke pihak eksternal. Hal ini sejalan visi Tel-U menjadi National Excellence Entrepreneurial University. “Jika riset dasar tidak kuat, inovasi yang dihasilkan akan gagal dan berakibat buruk untuk Tel-U. Riset dasar luarannya publikasi Scopus dan ini akan meningkatkan ranking kami. Dengan bertambahnya jumlah Guru Besar, kami optimis dapat mewujudkannya,” kata Prof. Suo penuh harap. Terakhir, untuk pengabdian kepada masyarakat, Tel-U ingin menjadi kampus berdampak yang dapat memberikan pendidikan berkualitas tanpa batasan apa pun. Untuk itu, kampus ini mencari kolaborator sebanyakbanyaknya dalam rangka menumbuhkan empati dan profesionalisme. “Ketika secara saintifik inovasi kampus ini terbukti dan dapat diterapkan di masyarakat, maka akan timbul kepercayaan. Pengabdian kepada masyarakat tidak hanya ditujukan untuk masyarakat sasar menengah ke bawah, tetapi juga industri besar untuk inovasi high-tech. Misalnya, PT Telkom sebagai stakeholder utama ketika butuh inovasi, kami bisa support. Atau inovasi yang dapat diterapkan di masyarakat dengan memperhatikan aspek budaya daerahnya. Untuk menyelesaikan masalah, tidak hanya butuh rekayasa saintek, tetapi juga rekayasa sosiohumaniora,” ujarnya menegaskan.

Dampak Tel-U sebagai “Atap-nya”

SETELAH empat fondasi dan lima pilarnya kokoh, Tel-U akan mampu menjadi kampus berdampak seperti slogan Kemendiktisaintek. Menurut Prof. Suo, bagian akhir dari penguatan Tel-U adalah atap, yakni dampak dari adanya kampus ini bagi masyarakat. Tidak hanya sebagai menara gading, semua yang dilakukan Tel-U harus berdampak bagi masyarakat luas. Ada tiga dampak yang ingin diraih Tel-U ke depan : dampak ekonomi yang besar, dampak sosial yang luas, serta meningkatnya ranking universitas di tingkat global. Pada dampak ekonomi yang besar, Tel-U harus mampu berkontribusi melawan kebodohan dan kemiskinan.

Semua perguruan tinggi memang bertujuan melawan kebodohan dan ingin mencerdaskan bangsa. Kemudian, untuk dampak sosial yang luas diharapkan, kehadiran Tel-U dapat mereduksi dampak negatif era post-truth dan post-human, sehingga tidak menghilangkan akar budaya. Maka, Tel-U membangun visi National Excellence Entrepreneurial University yang berbasis SAFE AI di tahun 2028 dan mendukung SDGs. SAFE AI adalah singkatan dari Secure/ Sustainable, Accurate, Fair, and Explainable Artificial Intelligence. “Artinya, AI yang digunakan harus aman dan berkelanjutan untuk data-data yang akan datang, akurat, adil bagi semua kalangan, serta dapat dijelaskan secara logis dan transparan. SAFE AI akan membantu decision maker dalam mengambil keputusan. Jadi, kami harus menggunakan AI secara bijaksana dan bertanggung jawab. Jangan sampai kita kehilangan budaya bangsa sendiri. Alumni Tel-U harus paham bahwa SAFE AI untuk menjaga kedaulatan data, kedaulatan budaya, kedaulatan bangsa, dan kedaulatan manusia,” jelasnya. Dampak terakhir adalah meningkatnya ranking universitas di kancah global. Walaupun Prof. Suo mengakui bahwa ranking adalah bonus dari kukuhnya empat fondasi dan lima pilar universitas, namun ranking sangat diperlukan sebagai branding universitas. Prof. Suo menekankan gagasan besar yang digulirkannya butuh dukungan dari seluruh civitas akademika Tel-U. “Dengan dukungan seluruh elemen kampus, saya optimis empat fondasi, lima pilar, dan tiga atap Tel-U yang semakin kukuh dapat terwujud,” pungkasnya.