
Sorgumology: Bangun Ketahanan Pangan dengan Sorgum
Salah satunya tanaman sorgum yang ternyata dapat menjadi pengganti beras. Selain kandungan seratnya tinggi, sorgum dapat diolah menjadi berbagai produk makanan sehat. Sorgum juga baik dikonsumsi anak dengan ADHD, karena tidak seperti tepung yang banyak mengandung gluten. ADHD atau Attention Deficit Hyperactivity Disorder adalah gangguan neurobiologis yang mempengaruhi kemampuan anak dalam memusatkan perhatian, mengendalikan impuls, dan mengatur tingkat aktivitasnya. Alhasil, sorgum dapat menjadi salah satu bahan pangan untuk menciptakan ketahanan pangan di samping jagung, kedelai, dan lain-lain.

Jawa Barat sudah menginisiasi penggunaan sorgum sebagai bahan makanan sejak 2012. Hal itu dilakukan H. Supriadi (Abah Sorgum) dari Desa Bojongmanggu, Kecamatan Pameungpeuk, Kabupaten Bandung. Bahkan sudah ada Kelompok Wanita Tani (KWT) yang aktif menanam sorgum dan mampu menghasilkan 35 produk olahan makanan berbahan sorgum. Sayangnya, gaung sorgum masih kalah oleh jagung dan kedelai di tingkat nasional. Melalui program CSR PT Telkom Indonesia Tbk. bekerja sama dengan Direktorat Digital Collaboration for Sustainability Telkom University (DCS Tel-U), sorgum kembali diperkenalkan melalui Program Sorgumology yang sudah berlangsung hingga fase 2. Menurut Senior Manager Sustainable Development Goals (SDGs) Unit Social Responsibility Center (SRC) PT Telkom, Suharsono, sorgum dapat mendukung perubahan iklim dan ketahanan pangan serta mengurangi ketergantungan pada beras. “Dari sisi nutrisi, sorgum memiliki nilai gizi dan lebih tahan cuaca dibanding nasi. Masalahnya hanya pembiasaan. Produk olahan sorgum sangat prospektif, bahkan sudah dijual di marketplace. Saat ini dengan bantuan teknologi dapat membantu mempermudah pekerjaan manusia,” ujarnya. Sementara menurut Wakil Rektor IV Bidang Riset dan Inovasi Tel-U, Angga Rusdinar, Ph.D., “Area riset saat ini sedang berkembang di ketahanan pangan dan energi. Sorgumology untuk ketahanan pangan dan harus terus hidup serta bermanfaat bagi desa.

Kemudian harus ada analisis ekonomi agar sorgum menghasilkan dan berkelanjutan.” Melalui Program Sorgumology Fase 2, Tel-U berkontribusi dengan menerjunkan tim dosen pelaksana dari Fakultas Ilmu Terapan (FIT) serta Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) yang diketuai Taufan Umbara, S.T., M.M. Pada program ini, tim dosen Tel-U membantu KWT Melati Desa Bojongmanggu dalam proses produksi, marketing hingga branding produk sorgum yang dihasilkan. Tel-U juga menyediakan Kitchen Lab. dan Container Lab. & Showcase yang ada di FIT untuk memajang produk-produk berbahan sorgum dari Desa Bojongmanggu. Kemudian, ada startup Sorgumology yang bertugas membantu KWT di Container Lab. & Showcase. Program sorgumology fase 2 dilaksanakan selama 5-6 bulan. Tim dosen sudah menghasilkan produk unggulan bernama Sorgummi, sereal tiga rasa (cokelat, choco almond, matcha). “Penanaman sorgum di Desa Bojongmanggu sudah berjalan, namun penjualannya masih sulit. Maka, kami membantu untuk diversifikasi produk olahan sorgum agar lebih menarik masyarakat. Produk ini sudah ada uji lab dan sedang dikejar untuk BPOM, halal, dan SNI. Kami juga memberikan mesin penepung mini, sealer vertical, pengaduk makanan, mesin cetak stiker dan poster, serta digital signage untuk membantu marketing.

Kami pun mengadakan pelatihan pengelolaan website, digital marketing, tour edutainment, dan operasional lanjutan. Kami menginginkan program sorgumology dapat diduplikasi ke kampung-kampung lain. Saat ini sudah ada KWT Dewi Sri dari Baleendah yang akan turut bergabung,” ujar Pelaksana Implementator dari FIT, Robi Hendriyanto, S.T., M.T. Menurut Penyuluh Pertanian dan Koordinator Kecamatan Pamengpeuk, Agus Sopian dan Rahmat Slamet, pihaknya sangat berterima kasih dengan adanya program ini, karena gaung sorgum dapat kembali terdengar. “Mudah-mudahan dengan adanya program ini perekonomian di wilayah kami semakin meningkat. Untuk penanaman sorgum, kami sudah mulai sejak tahun 2012. Pada sisi budidaya, Alhamdulillah sudah ada terobosan pasar, sehingga sorgum yang tersier dengan ini bisa lebih banyak yang mengkonsumsi dan serapan pasarnya bagus. Jadi, ke depan budidaya sorgum tidak sia-sia. Ada yang menanam, ada yang mengolah, dan ada pemasarannya. Kontinuitas budidaya sorgum diharapkan tetap berlanjut dan dapat disupport daerah-daerah sekitar,” ujar Rahmat dan Agus. Kegiatan ini turut dihadiri perwakilan Kelompok Halal Bandung (KHB) dan KWT Dewi Sri dari Baleendah. Setelah pemaparan hasil program Sorgumology, seluruh tim dan pengisi acara meresmikan Container Lab. & Showcase sekaligus meninjau ladang sorgum yang ada di area asrama mahasiswa Tel-U dan Bandung Techno Park (BTP).