Gun Portabel Alat Tenun Gedog

Gun Portabel Alat Tenun Gedog

Kekayaan tekstil tradisional di Indonesia begitu beragam. Salah satunya kain tenun tradisional. Meski kini marak berkembang kain tenun ATBM dan yang dibuat dengan bantuan mesin, namun menenun dengan alat tenun tradisional Gedog nyatanya masih dilakukan di sejumlah wilayah di Indonesia, seperti di Kabupaten Ende, Manggarai, Timor Tengah Selatan, Sumba, Tuban, dan lainlain. Menenun kain secara tradisional memiliki daya tarik keunikan yang kuat serta mengandung nilai budaya yang kental, sehingga sulit dibandingkan menenun dengan cara modern.

UPAYA pelestarian tenun Gedog terus dilakukan meskipun terdapat beberapa kendala, misalnya jumlah produksi kain tenun serta variasi motif yang dihasilkan masih terbatas. Selain itu, fungsi alat tenun Gedog juga masih sederhana dan kekuatan tangan untuk menggerakkan alat tenun serta ketahanan punggung para penenun memiliki keterbatasan. Pada alat tenun ini juga terdapat satu bagian yang berperan penting untuk menghasilkan motif, yaitu Gun. Selama ini pada alat tenun Gedog tradisional, gun dipasang secara permanen serta masih menimbulkan beberapa kendala dan keterbatasan. Pertama, pembuatan gun benang pada proses sebelum menenun membutuhkan waktu lama dan rumit.

Kedua, pemasangan gun benang tradisional saat memasukkan benang (mencucuk) sangat rumit dan perlu waktu lama. Ketiga, pemasangan gun tambahan hanya dapat menciptakan satu motif sampai akhir, karena dipasang permanen pada alat tenun. Terakhir, perhitungan benang seringkali tidak tepat, sehingga dapat menyebabkan motif kurang presisi. Hal ini menarik minat tim dosen Fakultas Industri Kreatif Telkom University (FIK Tel-U) yang dipimpin Dr. Fajar Ciptandi, S.Ds., M.Ds. Tujuannya membantu para penenun mempermudah proses penenunan dan menghasilkan motif yang lebih bervariasi dengan membuat inovasi berupa modifikasi gun dalam bentuk sebuah gun portabel yang dapat dipasang pada alat tenun Gedog. Adapun studi kasus untuk implementasi eksperimen alat ini dilakukan kepada penenun Gedog di Desa Kerek, Kabupaten Tuban, Jawa Timur.

Penelitian dilakukan melalui Hibah DRTPM, Skema Prototipe tahun 2024. Inovasi prototipe ini terdiri atas gun portabel dengan dimensi 110 x 1,5 x 1 cm, dua pengunci gun dengan dimensi 110 x 1,5 x 1 cm serta dua pin pengunci gun berdimensi 0,5 x 5 cm. Semua material terbuat dari kayu solid agar kekuatannya terjaga saat terbentur-bentur ketika proses menenun. Bentuk gun portabel ini memiliki celahcelah berukuran 0,5 cm untuk meletakkan benang lungsi yang berfungsi menghasilkan corak motif. Kemudian, gun dikunci menggunakan pin dari bagian atas dan bawah di sisi kiri dan kanan alat gun untuk menjaga posisi benang supaya tidak lepas saat ditenun. Pemasangan gun portabel ini mampu meningkatkan efektivitas pengerjaan tenun. Jika sebelumnya proses pemasangan gun memerlukan waktu berminggu-minggu, maka dengan menggantinya menggunakan gun portabel hanya sekitar 20 menit.

Namun, meski pemasangan gun portabel lebih mudah dan cepat, inovasi ini tidak langsung diterima para penenun. Alasannya mereka belum terbiasa dan merasa masih lebih nyaman dengan cara serta kebiasaan lama. Selain itu, masih terdapat kendala lain terkait penyempurnaan bentuk alat. Walaupun secara prinsip alat ini dapat dikatakan berhasil dan sudah berfungsi sangat baik, bahkan sudah diujicobakan di lingkungan sebenarnya kepada para penenun, namun penenun mengeluh lantaran merasa alatnya terlalu berat. Untuk itu, tim periset ingin mengembangkan kembali bentuk gun menjadi lebih ramping dan artistik, namun tetap kuat dan tahan terhadap benturan. Inovasi gun portabel telah berhasil mencapai 80% dari tujuan yang diharapkan, yakni meningkatkan efektivitas waktu dan proses kerja penenun serta menghasilkan luaran kain tenun dengan motif baru. Riset juga menghasilkan output berupa rekomendasi perancangan intervensi sebesar 80% dalam bentuk blueprint yang dapat diproduksi selanjutnya.

Tim periset juga sudah menggelar Focus Group Discussion (FGD) yang menghadirkan akademisi dan periset kriya tekstil ITB, praktisi tenun STT Tekstil, Fashion Designer ISBI, serta Pembina Perajin Tenun Gedog Lowo. FGD memberikan masukan dan evaluasi perihal perbaikan aspek bentuk, bobot, dan finishing material gun agar proses menenun lebih mudah tanpa ada gangguan sama sekali. Diharapkan setelah gun portabel diimplementasikan di Tuban, tim riset dapat mengajak para penenun Gedog di wilayah lain untuk menggunakan gun portabel. Pasalnya, penenun bakal terbantu dalam meningkatkan produksi tenun mereka dengan motif yang lebih bervariasi. Disarikan dari Hasil Wawancara dan Laporan Kemajuan Riset DRTPM Skema Prototipe 2024 Bertajuk “Alat Gun Portabel pada Alat Tenun Gedog” oleh Dr. Fajar Ciptandi, S.Ds., M.Ds., dan tim.

Profil Ketua Periset

DR. Fajar Ciptandi, S.Ds., M.Ds., dosen tetap Fakultas Industri Kreatif Telkom University (FIK Tel-U). Ia menyelesaikan studi S1 Prodi Kriya Tekstil ITB tahun 2009 dan Magister Desain di kampus yang sama tahun 2011. Studi Doktoralnya diselesaikan juga dari ITB di Prodi Ilmu Seni Rupa dan Desain tahun 2018. Saat ini, ia aktif di Kelompok Keahlian Aestetics, Culture & Conservation (KK Aectiva) dan Center of Excellence (CoE) Ciptaloka. Fajar mengajar di S2 Desain Tel-U dan menjabat Wakil Dekan I FIK Bidang Akademik dan Riset. Fajar memiliki kepakaran yang berfokus pada inovasi produk kriya berbasis tradisi dan kearifan lokal.

Menurutnya, konteks penelitian yang berfokus pada tradisi merupakan hal penting untuk menyeimbangkan perkembangan Information and Communication Technology (ICT). Kendati penelitian berbasis kriya tidak masif melibatkan peran teknologi mutakhir karena harus memperhatikan tingkat kesiapan masyarakat perajin dalam hal teknologi tersebut, namun hal ini berperan dalam mempertahankan nilai-nilai identitas dan jati diri budaya bangsa Indonesia. “Infrastruktur mereka (masyarakat pelosok) belum siap untuk teknologi komputerisasi dan digitalisasi, meskipun hal itu dianggap dapat mempermudah pekerjaan manusia. Jadi, perlu ada awareness terlebih dulu bagi mereka untuk menggunakan teknologi secara bertahap dimulai dari hal-hal yang menjadi pola kebiasaan mereka sehari-hari.

Jika dilihat lagi objek-objek riset saya seperti alat tenun secara tradisi memiliki nilai berharga dan perlu dilestarikan,” tuturnya. Lebih lanjut, Fajar melihat, Indonesia begitu kaya akan budaya tradisional yang dapat dijadikan topik riset, sehingga tidak sulit untuk mendapatkan inspirasi topik riset. Terlebih mahasiswa Tel-U berasal dari seluruh wilayah Indonesia, sehingga dapat membawa aspek budaya masing-masing daerahnya. “Jangan karena di sini berbasis ICT, maka penelitianpenelitian berbasis tradisi dan budaya seolah tidak mendapat tempat. Justru hal ini dapat memberikan keberagaman warna riset yang dijalankan di kampus Tel-U,” tandasnya.