Flo Finder: Pengukur Kadar Tanah & Rekomendasi Jenis Tanaman

Flo Finder: Pengukur Kadar Tanah & Rekomendasi Jenis Tanaman

Sebuah inovasi idealnya lahir dari kebutuhan masyarakat dan menjadi solusi dari masalah yang dihadapi masyarakat. Bahkan, inovasi yang terlihat sepele pun pasti akan disambut baik dan dimanfaatkan masyarakat jika memang dibutuhkan. Hal ini pula yang mendasari adanya Flo Finder, inovasi dalam bidang pertanian dari periset di PUI PT Intelligent Sensing – Internet of Things (IS-IoT) Fakultas Teknik Elektro Telkom University (FTE Tel-U).

FLO Finder berawal dari keluhan petani yang harus mengeluarkan biaya lebih di masa tanam untuk penyesuaian tanah sebagai media tanam sebelum memutuskan PUI PT IS-IoT untuk menanam jenis tanaman tertentu. Umpamanya sawah harus dibajak dulu atau lahan pertanian harus disesuaikan tanahnya dengan cara dicangkul agar memiliki unsur hara yang cocok ditanami jenis tanaman tertentu. Bahkan, pada lahan 46 pertanian besar biasanya penyesuaian tanah dilakukan dengan pengujian sampel tanah di laboratorium guna mengetahui kandungan unsur hara di dalamnya hingga porsi pemupukan yang harus dilakukan. Sementara tidak semua petani memiliki dana operasional lebih untuk hal ini.

Bahkan, masih banyak petani yang kesulitan untuk sekadar membeli pupuk. Untuk itu, dua dosen Program Studi (Prodi) Teknik Elektro di PUI PT IS-IoT : Istiqomah, S.T., M.Sc., dan Khilda Afifah, S.Pd., M.T., Ph.D., menawarkan solusi perangkat untuk mengukur kadar unsur hara di tanah yang terintegrasi dengan IoT dan berbasis Articial Intelligence (AI) bernama Flo Finder. Riset Flo Finder awalnya dilakukan dengan Skema Mandiri di tahun 2022 bersama mahasiswa. Meski alat yang dihasilkan belum sempurna, Flo Finder terus dikembangkan dan mendapat pendanaan dari Prodi dan PUI PT IS-IoT.

Flo Finder terdiri atas perangkat hardware berbentuk tongkat yang dilengkapi sejumlah sensor seperti sensor soil dan elektronika untuk mengukur berbagai parameter unsur hara tanah. Alat ini tinggal ditancapkan ke tanah dan langsung mengukur tujuh parameter unsur hara tanah, yakni Nitrogen (N), Phosphor (P), Kalium (K), Sulfur (S), pH, Temperatur, dan Konduktivitas Tanah (Electro Conductivity-EC). Flo Finder awalnya tidak ditargetkan menjadi produk inovasi prestisius, sebab hanya berasal dari keresahan periset yang ingin menciptakan alat yang bermanfaat bagi petani. Selain itu, riset dasar untuk Flo Finder belum kuat. Namun, Flo Finder nyatanya mampu mencapai Tingkat Kesiapan Teknologi (TKT) 4. Perangkat ini sudah diuji coba dalam pengukuran tanah di BUMDes Sepatan, Kabupaten Serang, Provinsi Banten, setelah ada MoU antara Tel-U dengan Kejaksaan dan Kementerian Pertanian pada Juni 2025. Bahkan, Flo Finder sudah dilakukan pengujian dengan preferensi alat pembanding sejenis dan hasil pengukuran sudah valid serta sesuai. Walaupun alat pengukur kadar unsur hara yang ada selama ini masih terpisah-pisah antara N, P, K, S, suhu, dan lain-lain, namun alatnya sudah terstandar.

Kini Flo Finder akan dikembangkan kembali untuk membangun sistem berbasis AI yang mampu merekomendasikan jenis tanaman yang harus ditanam, tidak hanya mengukur kandungan unsur hara tanah. Pengembangan dilakukan karena tim periset masih memerlukan banyak dataset/database real untuk membuat alat mampu mengukur parameter kondisi tanah, merekomendasikan tanaman yang harus ditanam, hingga pemupukan yang presisi. Oleh karena itu, tim periset mencari mitra kerja sama riset yang ahli dalam bidang pertanian agar lebih mudah dalam mengumpulkan banyak dataset untuk membuat data AI valid, real, dan tidak hanya berdasarkan asumsi.

Guna membaca hasil pengukuran parameter tanah, perangkat Flo Finder terhubung dengan sistem Bluetooth dalam jarak 2 meter ke sistem aplikasinya. Namun jangkauan ini dapat diperluas jika sudah dikembangkan dengan menggunakan sistem IoT dan data hasil pengukuran dapat disimpan di cloud. Untuk hasil pengukuran parameter tanah, Flo Finder hanya mewakili pengukuran daerah tempat ditancapkan alat. Untuk memperoleh hasil pengukuran yang akurat pada areal tertentu, tanah perlu dibaurkan lebih dulu dengan dicangkul sebelum diukur. Sebab, pada jarak 1-2 meter pun kondisi tanah ada kemungkinan berbeda hasil pengukurannya, terlebih jika tingkat kelembapannya berbeda. Salah satu review yang didapatkan saat Flo Finder dipresentasikan di Bandung Techno Park (BTP) adalah sensor yang digunakan sudah bagus, meski masih menggunakan sensor pabrikan.

Namun, jika Flo Finder ingin menjadi produk inovasi yang dapat diduplikasi dan dimanfaatkan di masyarakat, maka tim periset disarankan Foto.Dok.Youtube PUI PT IS-IoT untuk memproduksi sendiri sensor yang digunakan dalam perangkat atau dibuat secara custom. Hal ini untuk mengefisiensikan produksi perangkat. Tapi, saat ini tim periset lebih memfokuskan pada segi instrumentasi dan AI agar Flo Finder dapat menghasilkan data yang langsung memberi rekomendasi pada petani berdasarkan hasil pengukuran untuk jenis tanaman yang harus/cocok ditanam hingga akurasi tingkat pemupukan tanah yang dibutuhkan.

Oleh karena itu, pengumpulan dataset sebanyak mungkin untuk membangun analisis data menggunakan AI sangat diperlukan, sehingga hasil rekomendasi yang diberikan ke petani menjadi lebih akurat dan terpercaya. Hal ini sudah diungkapkan kelompok tani di lokasi pengujian di BUMDes Sepatan. Untuk pengembangan ke depan, Flo Finder diharapkan dapat memberi kebermanfaatan bagi kelompok tani dalam merekomendasikan jenis tanaman yang akan ditanam pada lahan pertaniannya. Kendati rencana hilirisasi maupun produksi alat secara industrialisasi belum ada, namun tim periset terus mengembangkan desain alat menjadi lebih baik dan compact agar lebih nyaman dipakai. Tim periset berharap, Flo Finder dapat memberikan manfaat langsung bagi petani, terlebih jika data rekomendasi yang dihasilkan sudah lebih akurat dan terpercaya setelah ditambah AI.