
Becak Listrik : Karya Tel-U Surabaya Ramah Lingkungan & Dukung UMKM Makin Melaju
Banyak permasalahan kompleks di kota besar memerlukan kontribusi berbagai pihak. Di antaranya polusi udara (lingkungan), krisis energi hingga SDM di kota terbesar kedua Indonesia, Surabaya. Berpenduduk 2,89 juta jiwa (BPS 2023), Kota Surabaya cukup padat dengan 31 kecamatan dan 154 kelurahan. Sebagian besar penduduknya bekerja di sektor swasta (66 ribu), salah satunya pedagang keliling.
Kampung Songo ke Kampung Tembok Gede 5,6 km. Untuk itu, tim dosen Telkom University Surabaya (TUS) melakukan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (Abdimas) yang dipimpin Dr. Susijanto Tri Rasmana, S.Kom., M.T. pada tahun 2024. Abdimas dengan membuat kendaraan modular seperti becak yang ramah lingkungan menggunakan daya listrik atau baterai maupun tenaga manusia. Kendaraan modular becak listrik ini dapat digunakan untuk alat transportasi, mengangkut logistik antarkampung serta ramah lingkungan, karena berbahan bakar listrik maupun tenaga manusia (untuk jarak dekat). Sebelum pembuatannya, tim berdiskusi dengan mitra sasar terkait desain kebutuhan becak listrik yang akan dibuat. Dilanjutkan pembuatan becak listrik yang melibatkan mahasiswa.

Hal-hal yang diperhatikan dalam proses pembuatan becak listrik di antaranya desain mekanik, baterai, dan rangkaian elektronik. Setelah jadi, becak listrik diuji untuk melihat kecepatan, jarak tempuh, respon dari sistem kontrol, dan daya angkut. Kegiatan Abdimas menghasilkan satu unit becak listrik yang ramah lingkungan dan multifungsi (dapat mengangkut orang maupun barang). Bagian depan kendaraan dapat dibongkar dan dipasang, tergantung kebutuhan penggunaannya (untuk berjualan, mengangkut barang atau orang). Kendaraan berdimensi panjang 237,8 cm; lebar 97,2 cm; tinggi 100,7 cm. Tempat duduk pengemudi di belakang memiliki panjang 25,5 cm dan lebar 20,5 cm. Kendaraan dilengkapi dinamo motor 2kW; controller tipe 48V-72V 50 A; baterai lithium 48V 18 Ah; charger 48V 3A dengan waktu pengecasan 4-5 jam.
Kendaraan ini dapat mencapai jarak tempuh 35 km dengan kecepatan maksimal 50 km/jam. Sebelum diserahkan pada mitra sasar di Kampung Oase, tim Abdimas TUS melakukan pelatihan menyangkut pemeriksaan daya baterai, indikator pengontrol dan perangkat elektronik serta mekanik kendaraan. Tim juga memberikan informasi soal perawatan becak listrik, terutama pada baterai, komponen elektronik, dan mekanik. Melalui kegiatan Abdimas ini, TUS sudah berkontribusi dalam SDGs untuk goal 7 energi bersih dan terjangkau; goal 8 mendapat pekerjaan layak dan meningkatkan ekonomi; serta goal 11 kehidupan yang berkelanjutan bagi komunitas perkotaan.
Keberadaan becak listrik diharapkan dapat berdampak pada peningkatan mobilitas dan memungkinkan pelaku UMKM menjangkau area lebih luas. Untuk tahapan selanjutnya, Tim Abdimas akan melakukan monitoring dan evaluasi penggunaan becak listrik mulai tampilan dan kinerjanya. Kemudian meningkatkan promosi berbagai produk di Kampung Ondomohen sebagai destinasi wisata.