SukaMaca: Bikin Anak Betah Baca Tingkatkan Literasi Digital, Bukan Cuma Scroll

SukaMaca: Bikin Anak Betah Baca Tingkatkan Literasi Digital, Bukan Cuma Scroll

Pemerintah Kabupaten Bandung tengah meningkatkan literasi masyarakat melalui 10 pilar literasi yang digagas Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kabupaten, yaitu (1) Bunda Literasi, (2) Paguyuban Duta Baca, (3) Literasi Edukasi Keluarga, Sekolah, Anak dan Masyarakat (LEKSAM) Bedas, (4) Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca (GPMB), (5) Pecinta Naskah Kuno, (6) Forum Pendongeng, (7) Forum Penulis, (8) Forum Taman Baca Masyarakat (TBM), (9) Perkumpulan Ilmuwan Administrasi Publik (PIAP), serta (10) Yayasan Mutiara Ilahi. Bahkan, pilar pertama, Bunda Literasi, sudah memecahkan rekor MURI dengan partisipasi 4.000-an Bunda Pegiat Literasi beberapa waktu lalu

UNTUK mendukung program pemerintah dan tujuan pembangunan berkelanjutan, Telkom University (Tel-U) turut berkontribusi. Salah satunya dilakukan tim dosen dan mahasiswa Fakultas Ilmu Terapan (FIT) melalui gelaran Innovillage 2024. Tim bahkan meraih juara untuk kategori Pendidikan Berkualitas bagi Disabilitas dan Inovasi serta Infrastruktur Berkelanjutan. Tim yang dibimbing Suryatiningsih, S.T., M.T. ini berhasil membuat inovasi berupa platform digital aplikasi SukaMaca untuk membantu tata kelola di Taman Baca Masyarakat (TBM) dan mendongeng digital menggunakan Virtual Reality (VR). Upaya peningkatan literasi pada anak dan orang tua berangkat dari keresahan tim, karena kian banyak anak-anak yang kecanduan bermain gadget dibanding membaca buku.

Kemudian, masih banyak orang tua yang tidak perhatian pada kegiatan anak dalam menggunakan gadget secara bijaksana atau sesuai umur. Hal ini disebabkan tingkat pendidikan orang tua yang rendah, tingkat kesibukan, hingga mengganggap anak lebih tenang jika diberi gadget. Padahal, banyak bahaya dari kecanduan gadget, terlebih menggunakan internet yang tidak sesuai umur anak. Setelah Bunda Literasi sukses, Pemkab Bandung memberikan banyak sumbangan buku untuk sejumlah TBM di wilayah Kabupaten Bandung. Salah satunya di Desa Sukamukti, Ketapang, Kabupaten Bandung. TBM ini awalnya berjalan di tempat, padahal pengelolanya pernah meraih penghargaan. Lantaran berpindah tempat, TBM ini kembali merintis dari awal dan baru berjalan lagi selama dua bulan.

Pembentukan TBM di Kabupaten Bandung ada yang diinisiasi desa, ada juga yang berasal dari perorangan yang menaruh kepedulian pada masalah literasi. Tak hanya meningkatkan literasi baca dan digital anak-anak, TBM juga fokus pada peningkatan literasi di kalangan orang tua, sehingga peran orang tua anak di TBM sangat diperlukan dan selalu dilibatkan. Selama ini, sejumlah TBM masih mengelola koleksi buku secara manual, baik untuk pengarsipan katalog buku, sistem peminjaman dan pengembalian buku, dan lain-lain. Jadi, ketika ada koleksi buku yang hilang tidak tercatat. Bahkan di beberapa wilayah, TBM belum berjalan aktif. Selain untuk sistem pengelolaan koleksi buku, aplikasi SukaMaca digunakan untuk memotivasi anak-anak yang datang ke TBM.

Pada aplikasi ini terdapat sistem reward yang diberikan pengelola TBM pada anak-anak yang mampu mengerjakan tugasnya, seperti membaca buku, meminjam buku, dan aktivitas positif lainnya di TBM. Selanjutnya, dari sistem aplikasi SukaMaca ini tim periset menghasilkan media animasi cerita dongeng digital yang dapat dinikmati anak-anak melalui media Virtual Reality (VR) sekaligus terhubung dengan aplikasinya. Jadi, tim memindahkan cerita dongeng anak dari media buku 2 dimensi ke bentuk animasi 3D yang dapat diakses melalui aplikasi SukaMaca.

Jika sebelumnya, kegiatan mendongeng hanya dapat dilakukan pengelola TBM, maka dengan aplikasi ini anak-anak dapat menikmati dongeng digital secara bergantian. Aplikasi SukaMaca kini sedang dikembangkan untuk penyandang disabilitas, terutama anak dengan disleksia, agar dapat digunakan secara inklusif untuk berbagai kalangan. Tim juga memberikan fasilitas akses wi-fi berbasis GSM dari Telkom Group untuk kebutuhan internet di TBM. Untuk pembuatan sistem aplikasinya, tim bekerja sama dengan laboratorium dari Center of Excellence (CoE) Metaverse Research and Experience Center (MREC), terutama untuk pembuatan media dongeng digital menggunakan VR. Adapun proses kegiatan dari awal sampai selesai berlangsung selama 4 bulan.

Tidak hanya pengenalan dan penggunaan sistem aplikasi SukaMaca, tim juga menggelar sejumlah kegiatan yang mendukung peningkatan literasi, antara lain seminar penggunaan internet yang bijak dan ramah anak. Selanjutnya, lomba memasak bagi para orang tua di TBM Sukamukti dengan resep yang bersumber dari buku koleksi di TBM, bukan dari internet atau Youtube. Pengelola TBM juga menjalankan sistem reward bagi anak yang mampu melaksanakan tugasnya, baik membaca atau meminjam buku fisik. Lima belas anak usia dini (PAUD ±3 tahun) hingga SMP terlibat dalam kegiatan ini. Inovasi dalam program Innovillage ini berawal dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan tim di TBM Almalia, Desa Lengkong, Kabupaten Bandung. Pengembangan dari kegiatan ini menghasilkan produk inovasi untuk digunakan di TBM Desa Sukamukti.

Bahkan, dinas terkait sangat mengapresiasi aplikasi SukaMaca dan berharap dapat ditularkan ke TBM-TBM lain di wilayah Kabupaten Bandung. Meski begitu, tim perlu melakukan analisis untuk permasalahan di setiap TBM yang mungkin berbeda satu dengan yang lain. Saat ini, aplikasi SukaMaca sudah ditawarkan ke TBM Alif di daerah Cileunyi mengingat TBM ini sudah memiliki jangkauan luas seIndonesia. Pengelolanya sering aktif mengikuti berbagai kegiatan webinar terkait literasi dan parenting hingga ke beberapa wilayah Indonesia.

“Sejak ada kegiatan parenting dari Tel-U, anak-anak PAUD dan SD sekarang jarang membawa atau bermain HP saat bermain dengan teman-temannya. Tidak seperti sebelumnya, yang hampir selalu bermain sambil memegang gawai,” ungkap mitra TBM.

Diharapkan, melalui TBM Alif, tim dapat memperkenalkan aplikasi SukaMaca ke berbagai daerah, termasuk daerah-daerah 3T (Terluar, Terpencil, Terdepan). Pengembangan lain yang akan dilakukan pada aplikasi SukaMaca adalah tingkat inklusivitas dari penggunaan aplikasi ini tidak hanya orang normal namun juga penyandang disabilitas, seperti disleksia, lansia, dan lain-lain. Untuk itu, riset lanjutan perlu dilakukan, terutama dengan memperhatikan berbagai masukan dari para pakar disabilitas hingga pakar psikologi. Termasuk masukan dari pustakawan, khususnya menyangkut pengelolaan dan penyajian koleksi buku yang ada di TBM. Jadi, ke depan dapat dihasilkan aplikasi yang memiliki interface lebih user friendly dan ramah bagi semua kalangan.

Disarikan dari Hasil Wawancara tentang Juara II Kategori Disabilitas Program Innovillage 2024 Bertajuk “Aplikasi SukaMaca: Optimalisasi Literasi Ramah Anak dan Disabilitas Melalui Metode Mendongeng dengan Teknologi VR dan Digitalisasi Taman Bacaan Masyarakat” oleh Raihan Muhammad Syawal (D3 Sistem Informasi); Maheswari Maharani Mahfud (D3 Sistem Informasi); Kevin Septianus Tjahjadi (D3 Sistem Informasi); dan dosen pembimbing Suryatiningsih, S.T., M.T.

Profil Dosen Pembimbing

SURYATININGSIH, S.T., M.T., CHt., OCA., atau akrab disapa Ocha adalah dosen program studi D3 Sistem Informasi FIT Tel-U. Ia aktif mengajar sejak tahun 2007. Ocha menyelesaikan studi S1 Teknik Informatika dari STT Telkom dan S2 di bidang yang sama dari IT Telkom. Bidang keahliannya dalam Applied Information Technology & Multimedia. Kajian risetnya antara lain Human Computer Interaction, User Experience, Mobile Application, dan Information System. Selain mengajar, Ocha menjabat Kepala Urusan Sentra KI dan Transfer Teknologi Tel-U di Bandung Techno Park (BTP). Pada tahun 2025, Ocha melanjutkan pendidikan ke tingkat S3. Ia diterima di program studi S3 Ilmu Komputer Universitas Indonesia. Ocha melihat, banyak talenta dosen hingga mahasiswa Tel-U yang dapat menghasilkan inovasi dalam berbagai bidang. Di antaranya aplikasi SukaMaca yang dapat membantu meningkatkan literasi digital anak dan orang tua. Ia mengharapkan, aplikasi ini dapat menjadi produk digital yang ramah untuk berbagai kalangan (inklusif) dan ergonomis. “Impian besarnya aplikasi ini dapat diimplementasikan di masyarakat yang lebih luas dan menyasar daerah 3T yang membutuhkan perhatian lebih besar. Kami juga ingin bekerja sama dengan para pakar, seperti pakar disabilitas hingga psikolog untuk memastikan produk digital ini dapat disajikan bagi orang-orang dengan kebutuhan yang berbeda-beda, baik sensorik, motorik hingga kognitif,” kata Ocha penuh harap