
Pemanfaatan Limbah Hidroponik untuk Pakan Ternak
Penanganan sampah di Indonesia masih banyak tantangannya, lantaran baru 60,63% yang sudah dikelola. Sementara dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020 – 2024, pengelolaan sampah ditargetkan mencapai 100%. Untuk itu perlu upaya komprehensif dan kolaboratif dari berbagai elemen masyarakat.
Satu di antara sekian tantangan dalam pengelolaan sampah adalah penanganan sampah organik yang antara lain berasal dari limbah usaha hidroponik. Sampah jenis ini cepat mengalami pembusukan serta dapat menyebabkan berbagai masalah, seperti bakteri, bau tak sedap, dan lain-lain. Permasalahan pengelolaan sampah limbah hidroponik terjadi di Koperasi Hita Loka di Desa Ketintang, Kecamatan Gayungan, Kota Surabaya. Inilah alasan kegiatan pengabdian kepada masyarakat (abdimas) dilakukan di sana oleh tim dosen Telkom University Surabaya (TUS) yang dipimpin Ully Asfari, S.Kom., M.Kom. Koperasi Hita Loka bergerak dalam bidang usaha jasa jual beli produk makanan dari hasil ternak ikan dan hidroponik.

Koperasi ini sudah memiliki 100 anggota aktif sejak tahun 2019. Selain masalah pengelolaan sampah limbah hidroponik, terkadang banyak konsumen di Koperasi Hita Loka yang kehabisan produk yang hendak dibeli. Selain di Koperasi Hita Loka, tim abdimas Tel-U juga menyasar 72 mitra lainnya dalam kegiatan abdimas, yakni CV Netafarm Indolestari yang berlokasi di Desa Jemundo, Kecamatan Taman, Kabupaten Sidoarjo. CV Netafarm Indolestari adalah pemasok kebutuhan pertanian dan penyedia produk tani. Perusahaan yang bergerak dalam bidang agribisnis dan peternakan ini mengalami permasalahan penurunan omzet penjualan, karena masih dilakukan secara konvensional. Untuk itu, tim abdimas TUS menggulirkan sejumlah program untuk membantu kedua mitra sasar dalam mengatasi permasalahannya. Program abdimas dilaksanakan meliputi kegiatan sosialisasi, pelatihan, penerapan teknologi, pendampingan dan evaluasi serta upaya keberlanjutan program.
Tim menawarkan program pengelolaan dan pemanfaatan sampah organik hasil usaha hidroponik dan peternakan di Koperasi Hita Loka serta meningkatkan efisiensi digitalisasi pemasaran untuk CV Netafarm Indolestari. Pada Koperasi Hita Loka, selain menghasilkan produk hidroponik yang dijual ke pelanggan, sampah sisa hidroponik seperti daun dan sisa tanaman lainnya juga menumpuk akibat tidak digunakan lagi. Sampah inilah yang kemudian diolah dan menjadi produk baru yang dapat dijual kembali. Sampah hidroponik diolah menjadi pakan ternak (pelet) yang dapat dikonsumsi ikan, sapi, kambing, dan ayam. Tim juga melakukan edukasi untuk pembuatan tabulampot dengan sistem bedding dan percobaan hidroponik. Sampah hasil usaha hidroponik diolah dan didaur ulang menjadi barang bernilai guna seperti pakan ternak dengan menggunakan Teknologi Tepat Guna (TTG) bermesin hybrid.
Pembuatan TTG bermesin hybrid (mode solar dan listrik) untuk mengurangi konsumsi listrik, karena dilengkapi teknologi solar panel. Mesin TTG digunakan dalam proses pencetakan pelet di mesin pelet. Tim juga membantu membuat kemasan produk pakan ternak yang berasal dari hasil pengolahan limbah hidroponik di Koperasi Hita Loka. Selain itu, tim menggelar pelatihan dan pembuatan website untuk company profile Koperasi Hita Loka dan CV Netafarm Indolestari.
Sebab, kedua mitra itu menginginkan adanya website atau aplikasi yang mampu menjadi media penyebaran konten edukasi ihwal pertanian dan peternakan serta bisa meningkatkan omzet penjualan secara digital. CV Netafarm Indolestari sebelumnya memiliki media sosial untuk membantu digital marketing, namun terkendala pembuatan konten dan belum memiliki website. Kemudian, data produk di perusahaan ini belum terorganisasi dengan baik.
Maka, pembuatan website company profile diharapkan dapat membantu pemasaran digital serta berdampak pada peningkatan penjualan produk. Kegiatan abdimas ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) untuk manajemen sampah, pekerjaan layak, dan pertumbuhan ekonomi, serta industri, inovasi, dan infrastruktur. Adapun luaran dari kegiatan ini menghasilkan website, modul sistem informasi berbasis web sebagai media edukasi dan pelatihan pembuatan media tanam, modul penggunaan mesin TTG pencetak pakan ternak yang sudah didaftarkan Kekayaan Intelektual (KI)-nya, serta publikasi di Jurnal Masyarakat Mandiri (JMM) dan media massa.